Articles

Tata Cara Pelaksanaan Aqiqah yang Wajib Anda Ketahui

Amalan aqiqah sebenarnya sudah sering dilakukan, tapi apakah Anda yakin bahwa tata cara pelaksanaan aqiqah sudah sesuai dengan ajaran? Dalam melakukan ibadah atau suatu amalan, tentu ada beberapa hal yang harus diperhatikan, termasuk tata cara pelaksanaannya. Aqiqah bukan sekadar memotong kambing dan membagikannya, tapi ada hal lain yang harus kita pelajari bersama.

Islam merupakan agama yang mengatur umatnya di segala sisi jadi segala sesuatunya memiliki aturan tersendiri yang harus kita ikuti sesuai ajaran. Sebelum Anda melangsungkan acara aqiqah, sangat disarankan untuk menyimak ulasan berikut ini. Sehingga kita tahu bagaimana pelaksanaan aqiqah sesuai dengan syariat agama dan berikut ulasannya.

Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Ada beberapa waktu yang dianjurkan dalam tata cara pelaksanaan aqiqah. Waktu ketujuh setelah kelahiran inilah yang paling diutamakan bagi para orang tua untuk melaksanakan aqiqah. Selain pencukuran kambing atau domba sebagai hewan aqiqah, acara ini biasanya dibarengi dengan pencukuran rambut dan pemberian nama bayi.

Ulama golongan Malikiyah menyampaikan jika orang tua tidak melaksanakan aqiqah anaknya hingga lebih dari tujuh hari setelah kelahirannya, maka tanggung jawab aqiqah sudah gugur. Artinya, golongan ini percaya bahwa aqiqah hanya boleh dilakukan di hari ketujuh setelah kelahiran saja. Sehingga Anda harus segera melangsungkan aqiqah, apalagi jika memiliki kemampuan secara finansial.

Berbeda dengan ulama golongan Hambali yang berpendapat bahwa waktu pelaksanaan aqiqah bisa dilakukan pada hari ketujuh, keempat belas atau kedua puluh satu setelah kelahiran. Jadi, setelah tujuh hari kelahiran, Anda masih bisa melangsungkan aqiqah sesuai dengan syariat agama karena mungkin pada hari ketujuh, orang tua masih belum bisa melakukan aqiqah sehingga bisa diundur hingga hari keempat belas atau kedua puluh satu.

Dalam tata cara pelaksanaan aqiqah, waktu sebelum anak baligh juga dianut oleh banyak orang. Pendapat dari ulama Syafi’iyah ini mengatakan jika aqiqah bisa dilakukan kapan saja sebelum anak baligh. Jadi, setelah anak baligh, barulah tanggung jawab orang tua untuk melaksanakan aqiqah untuk anaknya sudah gugur.

Jenis dan Syarat Hewan yang Disembelih

Tidak semua jenis hewan bisa digunakan untuk melangsungkan acara aqiqah. Pada dasarnya, hewan yang bisa digunakan dalam aqiqah adalah hewan ternak, yaitu kambing atau domba. Dalam masyarakat kita, hewan kambing mungkin lebih sering digunakan dalam acara aqiqah karena memang lebih mudah dijumpai. Apapun itu, pemilihan hewan harus sesuai dengan ketentuan yang sudah ada.

Tata cara pelaksanaan aqiqah tidak mewajibkan satu jenis kelamin hewan yang bisa disembelih jadi hewan jantan maupun betina bisa digunakan dalam aqiqah. Selain itu, ada beberapa syarat lain yang harus Anda perhatikan ketika memilih hewan untuk aqiqah. Dengan mengikuti ketentuan ini, Anda bisa mendapatkan hewan sesuai dengan anjuran.

Anda bisa memilih hewan betina maupun jantan. Hewan yang dipilih harus memilih jasmani yang sehat jadi tidak boleh cacat. Banyak kambing atau domba yang bisa kita jumpai, sehingga tidak sulit untuk menemukan hewan yang sehat secara jasmani. Selain itu, Anda tidak boleh menyembelih hewan curian. Jadi, pastikan bahwa Anda mendapatkan hewan aqiqah ini dengan cara yang halal.

Jika Anda memilih hewan domba untuk disembelih, pilihlah hewan yang berusia minimal 6 bulan atau memasuki tahun ketujuh. Sedangkan untuk kambing, disarankan untuk memilih hewan yang berusia minimal 1 tahun atau memasuki tahun kedua. Jika Anda tidak bisa mengetahui usianya, Anda bisa bertanya kepada penjual agar tata cara pelaksanaan aqiqah dapat terlaksana dengan benar.

Jumlah Hewan yang Disembelih

Setelah mengetahui syarat hewan yang bisa digunakan dalam aqiqah, tentu Anda harus tahu berapa jumlah hewan yang dibutuhkan untuk acara ini. Anak laki-laki dan perempuan nantinya memiliki tanggung jawab yang berbeda, di mana anak laki-laki memiliki tanggung jawab yang lebih besar dan banyak dibanding perempuan. Hal inilah yang membuat jumlah hewan aqiqah untuk laki-laki dan perempuan pun berbeda.

Bagi Anda yang memiliki anak laki-laki, maka dianjurkan untuk menyembelih dua ekor kambing atau domba. Sedangkan, untuk perempuan, hanya disarankan satu ekor kambing atau domba saja. Pastikan jika Anda sudah menyediakan hewan sembelih dengan jumlah sesuai dengan tata cara pelaksanaan aqiqah yang benar.

Jadi, bagi Anda yang memiliki dua anak laki-laki kembar, maka dibutuhkan empat hewan kambing atau domba untuk disembelih, karena masing-masing anak membutuhkan dua hewan untuk disembelih. Begitu juga jika Anda memiliki dua anak kembar perempuan, maka hewan yang harus disembelih adalah sebanyak dua ekor.

Hitungan hewan yang disembelih bukan pada jumlah acara, tetapi jumlah anak yang di-aqiqah-kan. Dengan keutamaan dan hikmah aqiqah, pastikan bahwa Anda telah melakukan tata cara pelaksanaan aqiqah sesuai dengan ajaran, agar anak Anda bisa menjadi anak yang sholeh dan sholehah nantinya.

Hidangan Aqiqah yang Dibagikan

Anda pasti pernah mendapatkan hidangan aqiqah dari kerabat atau tetangga yang melangsungkan acara aqiqah untuk anaknya. Hidangan ini diberikan dalam bentuk masalah yang sudah matang, karena memang inilah pelaksanaan aqiqah yang benar. Jadi, daging kambing atau domba yang sudah disembelih nantinya akan diolah menjadi hidangan siap santap.

Apabila sudah matang, barulah makanan tersebut yang akan dibagikan kepada orang lain, khususnya kerabat dan tetangga. Hal ini bertujuan agar mereka yang menerima hidangan aqiqah tidak kerepotan lagi untuk mengolahnya. Kebaikan dan rasa syukur atas kenikmatan tersebut pun akan bertambah. Kerabat, tetangga dan orang yang menerimanya akan merasa senang saat menyantap hidangan tersebut.

Untuk jenis masakannya pun bisa beragam, jadi tidak ada kewajiban untuk membuatnya gule, sate atau menu masakan lainnya. Tapi, kebanyakan daging kambing atau domba dari aqiqah biasanya diolah menjadi gule atau sate yang lezat. Meskipun yang dianjurkan adalah masakan olahan daging, biasanya ada makanan yang disertakan, seperti nasi, lauk pauk, hingga buah. Jadikanlah hal ini sebagai amalan baik untuk kita, anak dan orang lain.

Itulah tadi informasi mengenai pelaksanaan aqiqah yang baik dan benar sesuai ajaran agama. Melaksanakan suatu amalan tanpa mengetahui tata cara pelaksanaan yang tepat akan membuat amalan tersebut kurang maksimal. Oleh karena itu, pastikan Anda sudah memahami setiap ajaran aqiqah, termasuk tata cara pelaksanaan aqiqah sebelum melaksanakannya.

 

Hukum Pelaksanaan Aqiqah untuk Anak pada Kondisi Tertentu

Memahami hukum pelaksanaan aqiqah sangatlah penting untuk dilakukan. Sebagian besar dari kita mungkin sudah mengetahui bahwa aqiqah dianjurkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh, keempat belas atau kedua puluh satu setelah kelahiran, meskipun ada pendapat lain mengenai hal tersebut. Mengadakan aqiqah merupakan salah satu bentuk ungkapan rasa syukur kita sebagai orang tua atas kehadiran buah hati yang begitu didambakan.

Banyak keutamaan dan hikmah yang akan didapatkan apabila kita melangsungkan aqiqah, apalagi pada waktu-waktu terbaiknya, yaitu tujuh hari, empat belas atau dua puluh satu setelah kelahiran. Namun, ada beberapa kondisi yang terkadang membuat aqiqah harus tertunda atau bahkan sang anak sudah meninggal.

Dengan kondisi khusus tersebut, pasti kita bingung bagaimana hukum pelaksanaan aqiqah selanjutnya. Dalam kondisi seperti ini pun, banyak ulama yang telah membahasnya agar bisa menjadi bahan pertimbangan untuk melangsungkan aqiqah atau tidak. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyimak bersama bagaimana hukum aqiqah untuk berbagai kondisi khusus.

Hukum Aqiqah ketika Dewasa

Pada dasarnya, aqiqah dianjurkan untuk dilaksanakan pada waktu-waktu terbaiknya, yaitu hari ketujuh, empat belas dan dua puluh satu sejak bayi lahir. Namun, ada beberapa kondisi yang terkadang membuat orang tua tidak bisa melangsungkan aqiqah dalam waktu tersebut. Bahkan, sampai sang anak melewati masa baligh, orang tua belum mampu melaksanakan aqiqah.

Kondisi ekonomi biasanya menjadi alasan utama mengapa aqiqah tak kunjung dilakukan. Apabila kondisi ekonomi orang tua membaik ketika anak sudah dewasa, lantas apakah masih bisa diadakan aqiqah untuk sang buah hati, meski ia sudah dewasa? Pada umumnya, hukum pelaksanaan aqiqah adalah sunnah muakad sehingga jika memang kondisi baru memungkinkan, aqiqah masih dibolehkan.

Kebanyakan ulama mazhab Hambali berpendapat jika seseorang belum diaqiqahi ketika masih kecil, maka aqiqah masih bisa dan boleh dilaksanakan ketika anak tersebut sudah dewasa. Hukum aqiqah tetap sunah, meski itu sudah dewasa atau tua sekali pun. Jadi, apabila kondisi sudah memungkinkan dan mampu, maka segerakan untuk melakukan aqiqah.

Bahkan, beberapa ulama mengatakan bahwa waktu aqiqah tidak ada batasnya. Untuk waktu tujuh hari, empat belas dan dua puluh satu hanyalah waktu terbaik, bukan hukum pelaksanaan aqiqah yang mewajibkan. Terlepas dari waktu tersebut, sebenarnya kita masih bisa melakukan aqiqah kapan saja jika memang belum pernah diaqiqahi ketika masih kecil. Hanya saja, kita harus menyegerakannya.

Hukum Aqiqah untuk Anak yang Sudah Meninggal

Kehadiran seorang anak adalah anugerah yang paling membahagiakan sebagai orang tua. Sayangnya, beberapa dari kita mungkin harus mengalami kesedihan karena anak yang dilahirkan tidak berumur panjang karena kematian bisa menghampiri siapa saja, tak pandang usia. Dalam kondisi ini, sebagian dari kita mungkin belum sempat mengadakan aqiqah untuk anak. Tapi, apakah aqiqah masih diperbolehkan jika anak sudah meninggal?

Pendapat pertama mengenai aqiqah dalam kondisi ini adalah pendapat yang paling sahih, mengatakan bahwa tetap disunahkan untuk melangsungkan aqiqah, meskipun anak sudah meninggal. Sedangkan, pendapat kedua mengatakan jika tanggung jawab tersebut sudah gugur atau sudah tidak disunnahkan.

Sebagian besar ulama fiqih sependapat bahwa sebab pelaksanaan aqiqah adalah kelahiran anak. Jadi, meskipun sudah meninggal, kelahiran anak tetap ada sehingga tidak menggugurkan hukum sunah dari melakukan aqiqah untuk sang anak. Selain itu, aqiqah ini dilakukan agar kelak sang anak bisa memberikan syafaat pada orang tua, karena sudah melangsungkan aqiqah dan mendoakannya.

Jadi, tidak ada salahnya jika Anda tetap melangsungkan aqiqah untuk buah hati, meskipun sudah meninggal dunia. Hal ini dikarenakan banyak keutamaan atau hikmah yang akan didapatkan dari pelaksanaan aqiqah. Hukum pelaksanaan aqiqah pun tidak berubah meski anak sudah meninggal. Anda pun bisa segera mempersiapkan aqiqah untuk buah hati yang sudah meninggal.

Hukum Meng-Aqiqahkan Diri Sendiri

Seperti yang sudah kita tahu bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkad dan bapak atau ayah adalah orang yang diperintahkan. Jadi, seorang ibu atau anak itu sendiri tidak memiliki kewajiban untuk menunaikan aqiqah. Meski anak sudah baligh, hukum sunnah aqiqah masih belum gugur jika belum ditunaikan.

Apabila seorang bapak mampu untuk menunaikan aqiqah untuk anaknya, maka menyegerakan aqiqah adalah hal yang baik. Namun, ada kondisi yang terkadang membuat aqiqah belum terlaksana. Lantas, apakah kita bisa melakukan aqiqah untuk diri sendiri? Ada beberapa pendapat dengan pandangan yang berbeda, namun pendapat yang lebih kuat mengatakan hukum pelaksanaan aqiqah tetap dianjurkan.

Namun, ada juga ulama yang berpendapat bahwa tidak diwajibkan bagi kita untuk meng-aqiqahi diri sendiri jika selama masih kecil bapak belum meng-aqiqahkan kita. Perbedaan pendapat ini tentu menjadi bahan pertimbangan bagi kita, apakah ingin menunaikan aqiqah atau tidak.

Pada dasarnya, aqiqah memiliki keutamaan tersendiri sebagai suatu amalan. Apabila kondisi memungkinkan dan mampu, tidak apa jika menunaikan aqiqah untuk diri sendiri. Apalagi nantinya kita bisa berbagi makanan pada orang lain, menjalin silaturahmi dan meningkatkan ibadah kepada Allah. Jadi hukum pelaksanaan aqiqah masih diperbolehkan.

Hukum Qurban Sebelum Aqiqah

Jika kita tahu bagaimana sejarah atau pelaksanaan qurban dengan aqiqah, mungkin kita akan mengkaitkan keduanya. Sebenarnya, kedua amalan ini tidak memiliki keterkaitan sebab akibat sehingga tidak akan saling memengaruhi satu sama lain. Aqiqah merupakan tanggung jawab seorang bapak pada anaknya, sementara qurban merupakan tanggung jawab bagi setiap umat muslim.

Karena tidak ada kaitannya, maka kedua amalan ini berdiri masing-masing. Apabila seorang umat muslim memiliki kemampuan, maka diwajibkan untuk ber-qurban. Jadi tidak perlu memiliki anak atau seorang bapak yang melangsungkan qurban. Siapa saja yang mampu diperbolehkan, bahkan dianjurkan untuk menunaikannya.

Berbeda dengan aqiqah yang merupakan tanggung jawab seorang ayah kepada anaknya untuk menyembelikan kambing atau domba dengan jumlah dan syarat yang benar. Bahkan, aqiqah tidak memiliki batas waktu karena masih bisa dilakukan, bahkan hingga sudah dewasa. Namun, akan lebih baik jika aqiqah bisa segera dilaksanakan, terutama pada waktu terbaiknya.

Itulah tadi informasi mengenai beberapa kondisi yang masih menjadi pertanyaan bagi kita dalam melaksanakan aqiqah. Sebelum melangsungkannya, tentu Anda harus tahu dasar hukum dari pelaksanaan aqiqah tersebut, agar apa yang dilakukan tidak melenceng dari ajaran agama yang diajarkan. Oleh karena itu, penting untuk memahami hukum pelaksanaan aqiqah dan berbagai kondisi.

 

Keyword: hukum pelaksanaan aqiqah

Deskripsi: Hukum pelaksanaan aqiqah untuk setiap kondisi harus kita pahami dengan baik karena kita mungkin mengalami beberapa hal yang membuat hukum itu berubah.

Jasa Aqiqah Cikarang

Jasa Aqiqah Cikarang. Warung Aqiqah Siap membantu anda untuk memberikan paket aqiqah dengan layanan terbaik untuk buah hati anda. Aqiqah mudah sesuai sunah.

Laksanakan aqiqah pada hari ketujuh setelah lahiran. Jika tidak bisa anda bisa memilih opsi dihari ke 14 21 dan seterusnya setelah kelahiran. JasaAqiqah cikarang siap membantu tasyakuran aqiqah buah hati anda.

AQIQAH ADALAH IBADAH, KAMI MENGERTI UNTUK IBADAH HARUS DENGAN CARA YANG BAIK SESUAI TUNTUNAN

Syarat kambing aqiqah di JasaAqiqah Cikarang

“Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah, Kecuali jika terasa sulit bagi kalian, maka sembelihlah Jadza`ah dari domba.” ( HR. Muslim no. 1963)

Ringkasnya , ketentuan umur hewan aqiqah yang pas untuk aqiqah Kambing 1 tahun & Domba Minimal Umur 6 bulan.

 

Jasa Aqiqah Cikarang menyediakan kambing aqiqah sampai pengolahan. MAU AQIQAH SPESIAL DIHARI KETUJUH

bromoweb
bromoweb
bromoweb