aqiqah bekasi

Hukum Pelaksanaan Aqiqah untuk Anak pada Kondisi Tertentu

Memahami hukum pelaksanaan aqiqah sangatlah penting untuk dilakukan. Sebagian besar dari kita mungkin sudah mengetahui bahwa aqiqah dianjurkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh, keempat belas atau kedua puluh satu setelah kelahiran, meskipun ada pendapat lain mengenai hal tersebut. Mengadakan aqiqah merupakan salah satu bentuk ungkapan rasa syukur kita sebagai orang tua atas kehadiran buah hati yang begitu didambakan.

Banyak keutamaan dan hikmah yang akan didapatkan apabila kita melangsungkan aqiqah, apalagi pada waktu-waktu terbaiknya, yaitu tujuh hari, empat belas atau dua puluh satu setelah kelahiran. Namun, ada beberapa kondisi yang terkadang membuat aqiqah harus tertunda atau bahkan sang anak sudah meninggal.

Dengan kondisi khusus tersebut, pasti kita bingung bagaimana hukum pelaksanaan aqiqah selanjutnya. Dalam kondisi seperti ini pun, banyak ulama yang telah membahasnya agar bisa menjadi bahan pertimbangan untuk melangsungkan aqiqah atau tidak. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyimak bersama bagaimana hukum aqiqah untuk berbagai kondisi khusus.

Hukum Aqiqah ketika Dewasa

Pada dasarnya, aqiqah dianjurkan untuk dilaksanakan pada waktu-waktu terbaiknya, yaitu hari ketujuh, empat belas dan dua puluh satu sejak bayi lahir. Namun, ada beberapa kondisi yang terkadang membuat orang tua tidak bisa melangsungkan aqiqah dalam waktu tersebut. Bahkan, sampai sang anak melewati masa baligh, orang tua belum mampu melaksanakan aqiqah.

Kondisi ekonomi biasanya menjadi alasan utama mengapa aqiqah tak kunjung dilakukan. Apabila kondisi ekonomi orang tua membaik ketika anak sudah dewasa, lantas apakah masih bisa diadakan aqiqah untuk sang buah hati, meski ia sudah dewasa? Pada umumnya, hukum pelaksanaan aqiqah adalah sunnah muakad sehingga jika memang kondisi baru memungkinkan, aqiqah masih dibolehkan.

Kebanyakan ulama mazhab Hambali berpendapat jika seseorang belum diaqiqahi ketika masih kecil, maka aqiqah masih bisa dan boleh dilaksanakan ketika anak tersebut sudah dewasa. Hukum aqiqah tetap sunah, meski itu sudah dewasa atau tua sekali pun. Jadi, apabila kondisi sudah memungkinkan dan mampu, maka segerakan untuk melakukan aqiqah.

Bahkan, beberapa ulama mengatakan bahwa waktu aqiqah tidak ada batasnya. Untuk waktu tujuh hari, empat belas dan dua puluh satu hanyalah waktu terbaik, bukan hukum pelaksanaan aqiqah yang mewajibkan. Terlepas dari waktu tersebut, sebenarnya kita masih bisa melakukan aqiqah kapan saja jika memang belum pernah diaqiqahi ketika masih kecil. Hanya saja, kita harus menyegerakannya.

Hukum Aqiqah untuk Anak yang Sudah Meninggal

Kehadiran seorang anak adalah anugerah yang paling membahagiakan sebagai orang tua. Sayangnya, beberapa dari kita mungkin harus mengalami kesedihan karena anak yang dilahirkan tidak berumur panjang karena kematian bisa menghampiri siapa saja, tak pandang usia. Dalam kondisi ini, sebagian dari kita mungkin belum sempat mengadakan aqiqah untuk anak. Tapi, apakah aqiqah masih diperbolehkan jika anak sudah meninggal?

Pendapat pertama mengenai aqiqah dalam kondisi ini adalah pendapat yang paling sahih, mengatakan bahwa tetap disunahkan untuk melangsungkan aqiqah, meskipun anak sudah meninggal. Sedangkan, pendapat kedua mengatakan jika tanggung jawab tersebut sudah gugur atau sudah tidak disunnahkan.

Sebagian besar ulama fiqih sependapat bahwa sebab pelaksanaan aqiqah adalah kelahiran anak. Jadi, meskipun sudah meninggal, kelahiran anak tetap ada sehingga tidak menggugurkan hukum sunah dari melakukan aqiqah untuk sang anak. Selain itu, aqiqah ini dilakukan agar kelak sang anak bisa memberikan syafaat pada orang tua, karena sudah melangsungkan aqiqah dan mendoakannya.

Jadi, tidak ada salahnya jika Anda tetap melangsungkan aqiqah untuk buah hati, meskipun sudah meninggal dunia. Hal ini dikarenakan banyak keutamaan atau hikmah yang akan didapatkan dari pelaksanaan aqiqah. Hukum pelaksanaan aqiqah pun tidak berubah meski anak sudah meninggal. Anda pun bisa segera mempersiapkan aqiqah untuk buah hati yang sudah meninggal.

Hukum Meng-Aqiqahkan Diri Sendiri

Seperti yang sudah kita tahu bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkad dan bapak atau ayah adalah orang yang diperintahkan. Jadi, seorang ibu atau anak itu sendiri tidak memiliki kewajiban untuk menunaikan aqiqah. Meski anak sudah baligh, hukum sunnah aqiqah masih belum gugur jika belum ditunaikan.

Apabila seorang bapak mampu untuk menunaikan aqiqah untuk anaknya, maka menyegerakan aqiqah adalah hal yang baik. Namun, ada kondisi yang terkadang membuat aqiqah belum terlaksana. Lantas, apakah kita bisa melakukan aqiqah untuk diri sendiri? Ada beberapa pendapat dengan pandangan yang berbeda, namun pendapat yang lebih kuat mengatakan hukum pelaksanaan aqiqah tetap dianjurkan.

Namun, ada juga ulama yang berpendapat bahwa tidak diwajibkan bagi kita untuk meng-aqiqahi diri sendiri jika selama masih kecil bapak belum meng-aqiqahkan kita. Perbedaan pendapat ini tentu menjadi bahan pertimbangan bagi kita, apakah ingin menunaikan aqiqah atau tidak.

Pada dasarnya, aqiqah memiliki keutamaan tersendiri sebagai suatu amalan. Apabila kondisi memungkinkan dan mampu, tidak apa jika menunaikan aqiqah untuk diri sendiri. Apalagi nantinya kita bisa berbagi makanan pada orang lain, menjalin silaturahmi dan meningkatkan ibadah kepada Allah. Jadi hukum pelaksanaan aqiqah masih diperbolehkan.

Hukum Qurban Sebelum Aqiqah

Jika kita tahu bagaimana sejarah atau pelaksanaan qurban dengan aqiqah, mungkin kita akan mengkaitkan keduanya. Sebenarnya, kedua amalan ini tidak memiliki keterkaitan sebab akibat sehingga tidak akan saling memengaruhi satu sama lain. Aqiqah merupakan tanggung jawab seorang bapak pada anaknya, sementara qurban merupakan tanggung jawab bagi setiap umat muslim.

Karena tidak ada kaitannya, maka kedua amalan ini berdiri masing-masing. Apabila seorang umat muslim memiliki kemampuan, maka diwajibkan untuk ber-qurban. Jadi tidak perlu memiliki anak atau seorang bapak yang melangsungkan qurban. Siapa saja yang mampu diperbolehkan, bahkan dianjurkan untuk menunaikannya.

Berbeda dengan aqiqah yang merupakan tanggung jawab seorang ayah kepada anaknya untuk menyembelikan kambing atau domba dengan jumlah dan syarat yang benar. Bahkan, aqiqah tidak memiliki batas waktu karena masih bisa dilakukan, bahkan hingga sudah dewasa. Namun, akan lebih baik jika aqiqah bisa segera dilaksanakan, terutama pada waktu terbaiknya.

Itulah tadi informasi mengenai beberapa kondisi yang masih menjadi pertanyaan bagi kita dalam melaksanakan aqiqah. Sebelum melangsungkannya, tentu Anda harus tahu dasar hukum dari pelaksanaan aqiqah tersebut, agar apa yang dilakukan tidak melenceng dari ajaran agama yang diajarkan. Oleh karena itu, penting untuk memahami hukum pelaksanaan aqiqah dan berbagai kondisi.

 

Keyword: hukum pelaksanaan aqiqah

Deskripsi: Hukum pelaksanaan aqiqah untuk setiap kondisi harus kita pahami dengan baik karena kita mungkin mengalami beberapa hal yang membuat hukum itu berubah.

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Seputar Pelaksanaan Aqiqah

Pelaksanaan aqiqah secara sederhana dapat diartikan sebagai penyembelihan hewan, sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran anggota keluarga baru. Setiap orang tua boleh melakukan aqiqah untuk anak-anaknya. Biasanya acara ini dilakukan dengan menyembelih hewan kambing serta mencukur rambut bayi tersebut. Aqiqah bisa dilakukan pada hari ke tujuh kelahiran sekaligus memberikan nama.

Setiap orang yang melakukan aqiqah bisa sesuai dengan kemampuan ekonomi masing-masing. Bisa acara diadakan secara sederhana seperti menyembelih kambing dan makan bersama. Boleh juga dengan mengadakan pengajian dan syukuran besar untuk anaknya. Anda bisa memikirkan dengan matang acara aqiqah anak sesuai keinginan yang terpenting tidak membebani secara ekonomi.

Banyak sekali hal-hal yang harus diperhatikan ketika pelaksanaan aqiqah, Anda bisa menyembelih hewan sendiri atau menggunakan jasa penyedia daging aqiqah terutama di daerah Cikarang. Untuk lebih memahami apa saja hal-hal yang harus diperhatikan, Anda bisa membaca berbagai ulasan dibawah ini. Dengan begitu, diharapkan bisa mempersiapkan dengan baik acara aqiqah anak.

Memahami dan Mempelajari Secara Mendalam Tentang Aqiqah

Akikah atau yang dalam bahasa Arabnya Aqiqah adalah penyembelihan hewan dalam syariat Islam seperti kambing, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas kelahiran seorang bayi. Setiap bayi lahir diperbolehkan untuk diadakan aqiqah sesuai dengan kemampuan orang tuanya. Jika dirasa orang tua mampu pelaksanaan aqiqah bisa dilakukan segera mungkin.

Tahukah Anda dalam bahasa Arab, sebenarnya aqiqah mempunyai arti memutus atau melubangi. Hal ini memang benar karena dalam pelaksanaan acara aqiqah, hewan akan disembelih dan juga ada pemotongan rambut bayi. Jadi makna aqiqah secara syariat bisa dikatakan penyembelihan hewan yang dikurbankan, sebagai bentuk penebusan bayi baru dilahirkan.

Pelaksanaan aqiqah merupakan suatu bentuk ibadah kepada Allah untuk mencari ridha-Nya. Sehingga akan sangat baik jika segera dilakukan terutama pada hari ke 7 kelahiran bayi tersebut. Namun faktanya banyak orang tua yang belum mampu melaksanakan aqiqah pada hari ke 7, hal ini biasa terjadi karena faktor ekonomi dari orang tua.

Perlu diketahui bahwa penyembelihan hewan aqiqah tentu sangat berbeda dengan hewan kurban. Jadi Anda harus memahami dengan baik aturan-aturan maupun dasar-dasar melaksanakan aqiqah. Agar tidak terjadi masalah dan tetap sesuai dengan hukum-hukum Islam. Untuk membantu Anda semua informasi tentang aqiqah akan diuraikan dibawah ini secara sederhana agar mudah dipahami.

Dasar-dasar dan Hukum Dalam Melaksanakan Aqiqah Bagi Bayi

Pelaksanaan aqiqah merupakan hal sunnah atau bisa dibilang sebagai anjuran Nabi Rasulullah SAW. Hendaknya sebagai umat Muslim melaksanakan aqiqah meskipun hanya untuk yang mampu menyembelih hewan yaitu kambing. Namun bagi yang tidak mampu atau tidak memiliki harta berlebih maka hukumnya sunnah.

Hukum untuk hewan yang akan disembelih yaitu dari jumlah hewan untuk bayi laki-laki dan perempuan berbeda. Untuk bayi laki-laki yaitu dua hewan dan untuk perempuan satu hewan bisa kambing atau domba. Sementara hukum terkait waktu pelaksanaan acara aqiqah bisa dilakukan pada saat hari ke 7 bayi dilahirkan, ke 14, ke 21.

Syarat yang Harus Dipenuhi Oleh Orang Tuda Dalam Melaksanakan Aqiqah

  1. Laki-laki 2 ekor, perempuan 1 ekor

Bagi Anda yang ingin melaksanakan aqiqah untuk bayi yang baru lahir maka harus mengetahui syarat-syarat umumnya. Hal ini penting dilakukan mengingat pelaksanaan aqiqah adalah sebuah ibadah kepada Allah. Syarat aqiqah untuk bayi laki-laki haruslah dua ekor hewan, sedangkan untuk anak perempuan satu ekor hewan bisa domba atau kambing.

 

  1. Daging dibagikan sudah matang

Penyembelihan hewan untuk aqiqah berbeda dengan hewan kurban jadi pembagiannya juga berbeda. Jika daging hewan kurban akan dibagikan secara mentah, sedangkan daging hewan aqiqah dibagikan secara matang. Biasanya masyarakat membagikan daging aqiqah dibuat seperti nasi kotak. Daging akan dimasak sate dan gule kemudian ada nasi juga ditambah buah sebagai pelengkap.

 

  1. Tidak boleh mematahkan tulang hewan

Syarat yang harus dipenuhi ketika pelaksanaan aqiqah untuk bayi yaitu tidak boleh mematahkan tulang hewan pada saat menyembelih. Hal ini dipercaya demi kebaikan sang bayi dan bisa tumbuh dewasa dengan sempurna. Sehingga diharapkan untuk keselamatan anggota tubuh dan badan yang ada pada bayi tersebut.

 

  1. Hewan tidak cacat dan sudah cukup usia

Ketika Anda akan melaksanakan aqiqah sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran bayi di dalam keluarga. Maka harus memilih sendiri hewan yang akan disembelih untuk aqiqah. Anda harus benar-benar memastikan jika hewan baik domba atau kambing tidak cacat. Kemudian juga tidak boleh terlalu kurus atau terlihat tidak sehat dan cukup usianya.

Hal-Hal Lain yang Harus Dipertimbangkan Dalam Melaksanakan Aqiqah

  1. Pertimbangan dasar ekonomi

Dalam pelaksanaan aqiqah perlu banyak pertimbangan agar acara syukuran yang diinginkan bisa berjalan lancar. Pertimbangan yang utama tentu saja dari dasar ekonomi Anda dan keluarga. Jika dirasa mampu maka aqiqah bisa dilaksanakan pada hari ke-7 bayi dilahirkan. Begitupun dengan acara yang dilakukan bisa dibuat sederhana sesuai dengan keuangan Anda.

 

  1. Keputusan pembagian daging

Pembagian daging dari hasil menyembelih aqiqah haruslah dalam bentuk sudah dimasak. Pembagian daging diperbolehkan untuk disedekahkan sebagian kemudian sisanya dimakan bersama. Bisa juga Anda menyedekahkan semuanya kepada sesama, tetangga dan masyarakat. Namun biasanya acara aqiqah identik dengan mengumpulkan semua tetangga maupun saudara, untuk duduk bersama berdoa dan menikmati daging aqiqah.

 

  1. Tidak boleh patungan

Perlu Anda ketahui kalau pelaksanaan aqiqah sangat berbeda dengan penyembelihan daging kurban pada saat Idul Adha. Jadi hewan yang disembelih untuk aqiqah tidak boleh hasil patungan dari beberapa orang. Kalau hewan kurban boleh satu hewan untuk delapan orang. Baik satu atau dua hewan yang akan disembelih hanya untuk bayi tersebut.

 

  1. Teknis pelaksanaan acara aqiqah

Jika akan melaksanakan aqiqah perlu juga dipertimbangkan perihal penyembelihan hewan. Menyembelih hewan tentu membutuhkan tenaga dan tempat tersendiri. Saat ini banyak orang yang menginginkan cara lebih praktis dalam pelaksanaan acara aqiqah. Ada jasa penyedia daging aqiqah, jadi Anda bisa memilih hewan yang diinginkan nanti langsung dimasak jadi tidak perlu lagi repot.

Setiap orang tua yang memiliki bayi sebagai anggota keluarga baru pasti akan merasa sangat bersyukur. Sebagai umat Islam melaksanakan aqiqah merupakan ungkapan syukur atas pemberian rahmat berupa seorang bayi. Maka setiap orang tua disarankan untuk melaksanakan aqiqah pada setiap anaknya. Terkait pelaksanaan aqiqah sendiri bisa disesuaikan dengan kemampuan orang tua.

bromoweb
bromoweb
bromoweb